Jumat, 23 Desember 2011

Pengertian Cerita Rakyat

Pentingnya mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat, karena cerita rakyat itu memiliki fungsi kultural. Lahirnya suatu cerita rakyat bukan semata-mata di dorong oleh keinginan penutur untuk menghibur masyarakatnya melainkan dengan penuh kesabaran ia ingin menyampaikan nilai-nilai luhur kepada generasi penerusnya.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Djamaris (1993 : 15) yang mengatakan bahwa cerita rakyat adalah golongan cerita  yang hidup dan berkembang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Disebut cerita rakyat karena cerita ini hidup di kalangan rakyat dan hampir semua lapisan masyarakat mengenal cerita itu. Cerita rakyat milik masyarakat bukan milik seseorang.
Cerita rakyat biasanya disampaikan secara lisan oleh tukang cerita yang hafal alur ceritanya. Itulah sebabnya cerita rakyat disebut sastra lisan. Cerita disampaikan oleh tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa (Djamaris, 1993 : 6).
Menurut Danandjaya (dalam Auda) (1999 : 16) cerita rakyat adalah merupakan bagian dari foklor lisan yang folklore yang memang murni. Sedangkan pengertian folklore adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif macam apa saja. Secara tradisional dalam versi yang berbeda bahwa dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerakan isyarat atau alat pembantu pengingat.
Disisi lain Andre (1981 : 1) mengemukakan pengertian dan fungsi cerita rakyat dalam bukunya yang berjudul “Sastra lisan Bugis” sebagai berikut : cerita rakyat adalah suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat itu yang diwarisi secara lisan sebagai milik bersama. Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan, pengisi waktu senggang serta penyalur perasaan bagi penuturnya serta pendengarnya, melainkan juga sebagai pencerminan sikap dan angan-angan kelompok, alat pendidikan, alat pengesahan pranata, dan lembaga kebudayaan serta pemeliharaan norma masyarakat.
Rosidi dalam Auda (1999 : 15) sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah yang terdapat di seluruh wilayah Nusantara, ini dinamakan sastra nusantara. Sedangkan yang dinamakan sastra Indonesia hanyalah sastra yang di tulis dalam bahasa Indonesia saja. Jadi karena pertimbangan dari segi bahasa itulah maka di Indonesia kita mengenal adanya sastra daerah (sastra Nusantara), sastra asing dan sastra Indonesia. Sastra Indonesia berarti sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Sastra Indonesia berarti sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Sastra daerah berarti sastra yang menggunakan salah satu bahasa daerah yang terdapat di wilayah Nusantara ini sastra asing berarti sastra yang menggunakan salah satu bahasa asing.
Sementara itu, menurut Gaffar (1990 : 3) cerita rakyat adalah salah satu bentuk tradisi lisan yang memakai media bahasa. Pengertian ini akan kabur bila mana diperhadapkan dengan bentuk sastra lisan yang juga memakai media bahasa seperti teka-teki dan ungkapan.
Jadi cerita rakyat adalah bagian dari karya sastra berupa dongeng-dongeng atau bentuk cerita lainnya yang berkembang di kalangan masyarakat tertentu dan disebarluaskan secara lisan dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Karena cerita rakyat merupakan bagian dari karya sastra, maka dalam kebudayaan cerita itu termasuk dalam salah satu unsur kebudayaan. Cerita rakyat merupakan salah satu perwujudan atau pikiran kelompok masyarakat pendukungnya.
Lahirnya cerita rakyat karena pengaruh timbal balik yang kompleks dari faktor-faktor sosial kultural dan cerita-cerita rakyat itu mengandung pikiran tentang nilai yang harus menjadi panutan masyarakat yang bersangkutan dalam menata tindakan sehari-hari.


2.2    Jenis dan Macam Cerita Rakyat
Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia di kalangan masyarakat Muna banyak ditemui jenis cerita rakyat atau lebih dikenal dengan istilah dongeng.
Mengenai pembagian dan pengelompokan dongeng menurut jenis dan macamnya, oleh para ahli masih terdapat banyak perbedaan. Hal ini disebabkan masih banyak cerita rakyat memiliki lebih dari satu kategori. Artinya dalam satu cerita mungkin saja terdiri dari cerita mite, tetapi ia juga mempunyai unsur legenda, sage dan sebagainya.
William R. Bascom, dalam James Danandjaya, (1986 : 50-51) mengemukakan cara menentukan penggolongan cerita ke dalam jenis dan macamnya, adalah sebagai berikut :
Jika ada cerita sekaligus mempunyai ciri-ciri mite dan legenda, maka kita harus mempertimbangkan ciri mana yang lebih berat. Jika ciri mite lebih berat, maka cerita itu kita golongkan kedalam mite. Demikian pula sebaliknya, jika yang lebih berat adalah ciri legendanya maka cerita  itu harus digolongkan kedalam legenda. Selain itu kita harus memperhatikan kolektifnya (folk) yang demikian suatu cerita. Karena dengan mengetahui kolektifnya dapat ditemukan kategori suatu cerita. Jadi untuk menentukan apakah suatu cerita itu termasuk mite, legenda atau dongeng, kita harus mengetahui folk pemilik atau pendukung cerita itu (Danabdjaya, 1986 : 50-51).
Selain cara penentuan diatas dalam buku penelitian folklore Indonesia (ilmu gossip, dongeng dan lain-lain) telah dikemukakan pembagian dongeng sebagai berikut :
Cerita rakyat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
(1) mitos (mite), (2) legenda (legend) dan (3) dongeng (falkto), (James Danandjaya, 1986 : 59).
1.    Mitos (mite), adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi setelah dianggap suci oleh empunya. Mite ditokohkan oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwanya terjadi di dunia lain atau bukan di dunia yang seperti kita kenal sekarang ini dan terjadi di masa lampau.
2.    Legenda, adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia walaupun adakalanya sifat-sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya di dunia yang kita kenal dan waktu terjadinya belum terlalu lama.
3.    Dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap benar-benar oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terkait waktu maupun tempat.
2.3    Fungsi Cerita Rakyat
Setiap cerita rakyat memiliki fungsi dan tujuan yang hendak disampaikan kepada masyarakatnya. Fungsi dan tujuan dapat berbeda-beda sesuai dengan pandangan masyarakat, alam dan lingkungannya.
Dalam penelitian struktur lisan Toraja oleh Muhammad Sikki, dkk (1986 : 13), dikemukakan ada 4 fungsi cerita rakyat lisan Toraja khususnya dan cerita rakyat lisan pada umumnya, yakni sebagai berikut :
1.    Cerita dapat mencerminkan angan-angan kelompok. Peristiwa yang diungkap dalam cerita ini sulit terjadi dalam kenyataan hidup sehari-hari. Jadi, hanyalah merupakan proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata terutama gadis-gadis atau perjaka yang miskin.
2.    Cerita rakyat yang digunakan sebagai pengesahan penguatan suatu adat kebiasaan kelompok pranata-pranata yang merupakan lembaga kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
3.    Cerita rakyat dapat berfungsi sebagai pendidikan budi pekerti kepada anak-anak atau tuntunan dalam hidup ini.
4.    Cerita rakyat berfungsi sebagai alat pengendali sosial (sosial control) atau sebagai alat pengawasan, agar norma-norma masyarakat dapat dipatuhi (Bascom, dalam Muhammad Sikki, 1986 : 13).
Mengenai fungsi dan tujuan-tujuan tersebut, secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.    Dengan legenda, orang tua dapat mendidik atau para resi di saat itu dapat membina budi nurani anak-anak yang menunjukkan kepahlawanan dan kejujuran dalam melawan kebatilan atau kejahatan.
2.    Dengan Fabel, para pujangga bebas mengkritik atau sesuatu keadaan yang bersifat kejam. Kekejaman para tirani, para feodum (tuan tanah), kapitalis atau penjaga negeri yang disampaikan dalam bentuk-bentuk seloka. Maklumlah raja-raja atau penguasa waktu itu dianggap sebagai wakil tuhan atau dewa. Dengan fable, orang tua bisa menokohkan rakyat kecil sebagai pembela kebenaran dan kebatilan. Ia dapat menghukum si penguasa secara demokratis dengan para saksi yang disumpah.
3.    Dengan Mitos, para pujangga menimbulkan suatu kepercayaan dan masyarakat di zaman lama sebagian besar mempercayainya. Dengan mitos, timbullah suatu kultur individu bagi raja atau pemimpinnya. Dengan mitos, mereka menganut animisme atau menyembah berhala. Dengan mitos, tumbuh suatu aliran kepercayaan.
4.    Dengan sage dapat menceritakan cikal bakal asal mula nama tempat, negeri, gunung, kampung dan sebagainya.
Fungsi cerita rakyat menurut Djames Danandjaya (1984 : 4) mempunyai kegunaan sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
Jadi fungsi cerita rakyat adalah sebagai gambaran kehidupan masyarakat lama berupa nilai-nilai yang pernah dianut, serta kepercayaan-kepercayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat itu, serta menjadi panutan dan tempat bercermin bagi masyarakat modern dalam menjalani kehidupannya. Selain itu juga dapat dijadikan penghibur dan pengisi waktu luang.


2.4    Konsep Nilai
Nilai adalah hakikat hal yang menyebabkan hal tersebut pantas dijalankan oleh manusia (Arijarkora dalam Evangelis, 2001 : 11). Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa nilai itu sendiri sesungguhnya berkaitan erat dengan kebaikan, yang membedakannya adalah kebaikan lebih melekat pada halnya, sedangkan nilai lebih merujuk pada sikap orang terhadap sesuatu atau hal yang baik.
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat dikatakan berguna atau tidak berguna, baik atau tidak baik, religius atau tidak religius. Hal itu dihubungkan dengan unsur-unsur yang melekat pada diri manusia yaitu jasmani, cipta rasa, dan kepercayaan. Sesuatu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai etetis) baik (nilai etis/moral), religius (nilai agama).
Menurut Darmadiharjo, dkk (Evangelis, 2001 : 12) nilai terbagi atas tiga bagian yaitu :
a.    Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia
b.    Nilai vital, yaitu sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan aktivitasnya.
c.    Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bagi rohani manusia.

1 komentar:

  1. Terima kasih atas informasinya. Bisa minta referensi buku-bukunya? Terima kasih

    Valentine S

    BalasHapus